Krisis Gaza 2025

Gaza kembali menghadapi situasi kemanusiaan yang sangat kritis.

Krisis Gaza 2025,-Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNRWA dan OCHA memperingatkan bahwa ribuan warga, termasuk anak-anak dan keluarga, berjuang melawan kelaparan, penyakit, serta minimnya akses terhadap air bersih dan layanan kesehatan.

Krisis Gaza 2025

Krisis Kesehatan di Kamp Al-Mawasi

Di kamp pengungsian darurat Al-Mawasi, kondisi lingkungan semakin tidak layak huni. Menurut Louise Wateridge, Pejabat Senior Darurat UNRWA, tumpukan sampah, tikus, dan serangga kini menguasai wilayah-wilayah tempat para pengungsi berlindung.

“Keluarga tidak punya pilihan selain bertahan di tengah kondisi yang tidak higienis dan mematikan,” ujar Wateridge kepada UN News, Rabu lalu.

Dengan suhu udara yang terus meningkat, wabah penyakit mulai menyebar dengan cepat.  Infrastruktur Hancur Akibat Serangan Udara

Laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebutkan bahwa antara tanggal 21–22 April, serangan udara Israel menghancurkan lebih dari 30 kendaraan penting yang digunakan untuk pengelolaan sampah dan distribusi air. Hal ini menyebabkan gangguan besar pada sistem sanitasi dan distribusi air bersih di wilayah yang padat pengungsi.

Dalam sepekan terakhir, sedikitnya 23 serangan menghantam tenda-tenda pengungsi, menyebabkan puluhan warga sipil meninggal dunia, termasuk perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas.

Layanan Kesehatan Semakin Runtuh

Lebih dari setengah fasilitas kesehatan yang tersisa berada di wilayah evakuasi. Namun, akses terhadap layanan medis sangat terbatas. Keterbatasan tenaga medis, obat-obatan, dan peralatan membuat ribuan orang berada dalam risiko besar. Hingga 15 April, sekitar 420.000 warga telah mengungsi kembali — sebagian besar untuk kedua atau ketiga kalinya.

Krisis Gaza 2025

Bantuan Kemanusiaan Diblokir

Situasi semakin memburuk karena masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza sudah terhenti selama lebih dari 50 hari. Dari 42 misi bantuan yang dijadwalkan antara 15–21 April, setidaknya 20 ditolak, dan hanya 19 yang berhasil masuk.

Selain itu, PBB juga menghadapi kekurangan dana. Dari kebutuhan $4,07 miliar untuk wilayah Gaza dan Tepi Barat, baru sekitar 14% yang telah dikucurkan oleh para donor.

Jumlah Korban Terus Bertambah

Sejak 7 Oktober 2023, ketika konflik besar kembali pecah, banyak pihak menuding Israel melancarkan operasi militer besar-besaran yang menewaskan lebih dari 51.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 116.000 lainnya.  Meskipun berbagai negara telah mengecam tindakan tersebut, aksi konkret untuk menghentikan kekerasan masih minim. Proses hukum terhadap sejumlah pejabat Israel masih berjalan di Mahkamah Internasional dan Mahkamah Pidana Internasional.

Penutup

Krisis Gaza 2025 bukan sekadar konflik politik — ini adalah bencana kemanusiaan yang menuntut perhatian global. Di tengah keterbatasan logistik, kekurangan dana, dan runtuhnya infrastruktur, jutaan nyawa kini bergantung pada tekanan internasional terhadap pihak-pihak terkait untuk menghentikan kekerasan dan membuka akses bantuan.

Baca Juga : Berita Dunia Lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *