Suriah di Ambang Perang

Suriah di Ambang Perang

Suriah di Ambang Perang yang semakin mendalam setelah bertahun-tahun perang saudara. Perang yang dimulai pada 2011 ini, dengan jatuhnya Bashar al-Assad, telah mengubah wajah negara tersebut. Di tengah-tengah pergolakan ini, militer Israel kembali memperburuk keadaan dengan melancarkan serangan udara ke wilayah sekitar Damaskus pada Kamis dan Jumat lalu, menargetkan beberapa fasilitas yang diduga berkaitan dengan kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa.

Suriah di Ambang Perang

Penyebab Ketegangan Baru di Suriah

Ketegangan dimulai pada Senin (28/5/2025) malam setelah rekaman audio yang diduga menghina Nabi Muhammad SAW viral di media sosial. Rekaman tersebut diduga berasal dari seorang ulama Druze, yang kemudian dibantah oleh ulama Druze lainnya, Marwan Kiwan. Meskipun ada klarifikasi, peristiwa ini memicu bentrokan keras antara kelompok milisi pro-pemerintah dan komunitas Druze di Suriah.

Menurut laporan Times of Israel, bentrokan ini memakan korban hampir 100 jiwa dan memperburuk ketegangan sekterian di Suriah.

Tindakan Militer Israel: Membantu atau Memperburuk?

Israel, sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Suriah, memperburuk situasi dengan serangan udara yang menargetkan pasukan pro-pemerintah Suriah. Tindakan ini merupakan respons terhadap tekanan dari komunitas Druze di Israel. Pemerintah Israel, di bawah Benjamin Netanyahu, menegaskan komitmennya untuk melindungi komunitas Druze di Suriah dari serangan-seangan yang semakin meningkat.

Apa Itu Komunitas Druze?

Komunitas Druze adalah kelompok agama minoritas yang memiliki akar dalam Ismailisme, sebuah cabang dari Syiah Islam. Di Suriah, mayoritas komunitas Druze tinggal di provinsi Sweida dan sekitar Damaskus, termasuk daerah Jaramana dan Ashrafiyat Sahnaya. Seiring berjalannya waktu, mereka telah terlibat dalam berbagai konflik, baik di Suriah maupun dalam hubungannya dengan negara-negara tetangga.

Setelah jatuhnya Bashar al-Assad, pemerintah transisi Suriah berjanji untuk memberi perwakilan dari kelompok Druze dalam pemerintahan baru. Namun, kekuasaan utama masih dipegang oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), kelompok militan yang telah menggulingkan Assad.

Kekhawatiran dan Pembelahan dalam Komunitas Druze

Komunitas Druze terbagi dalam cara mereka melihat masa depan Suriah pasca-Assad. Beberapa mendukung upaya dialog dan rekonsiliasi dengan pemerintah transisi, sementara lainnya memilih pendekatan yang lebih konfrontatif, dengan beberapa di antaranya memiliki pasukan bersenjata.

Namun, ketidakpastian dan kekerasan yang melibatkan kelompok-kelompok militan di Suriah membuat banyak orang, termasuk komunitas Druze, khawatir tentang masa depan mereka. Kejadian kekerasan berbasis sektarian yang telah terjadi setelah jatuhnya Assad semakin memperburuk ketidakpercayaan terhadap pemerintah transisi.

Kekhawatiran atas Ancaman ISIS

Pada 2018, komunitas Druze di Suriah mengalami serangan besar dari ISIS di provinsi Sweida. Serangan ini menyebabkan puluhan orang Druze tewas, sementara puluhan lainnya menjadi tawanan selama empat bulan. Serangan tersebut menunjukkan bagaimana komunitas Druze sering kali menjadi sasaran kekerasan ekstremis, yang menambah ketidakpastian bagi mereka di tengah ketegangan sektarian yang terus meningkat.

Reaksi Internasional terhadap Kekerasan di Suriah

Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (2/5/2025), Guterres menegaskan bahwa semua pihak harus menghormati kedaulatan Suriah dan mengakhiri kekerasan yang semakin meningkat, khususnya yang menargetkan warga sipil.

Israel dan Suriah: Konflik yang Berlanjut

Ketegangan antara Israel dan Suriah semakin memanas, dengan militer Israel terus melakukan serangan udara di berbagai wilayah Suriah. Sementara itu, Suriah menghadapi perpecahan internal yang semakin dalam, dengan banyak kelompok yang berjuang untuk mendapatkan pengaruh di pemerintahan baru yang telah terbentuk setelah jatuhnya Bashar al-Assad.

Penutupan dan Proyeksi Masa Depan

Seiring berjalannya waktu, Suriah akan menghadapi banyak tantangan dalam proses rekonstruksi dan penyatuan kembali negara setelah lebih dari satu dekade perang saudara.  Sementara itu, nasib komunitas Druze dan kelompok minoritas lainnya di Suriah akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah baru menangani ketegangan sektarian yang ada.

Baca Juga : Berita Seputar Dunia Lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *